(“ESOK TAK LAGI ADA CERITA”)
Sepertinya ku tak perlu melihat gugurnya daun daun
Atau menyaksikan debu jalanan tersapu oleh angin
Bahkan tak perlu kuhardik tanda tanda musim yang berganti
Tak perlu memang langkahku berhenti
Sedetik atau setahun apakah ada bedanya?
Sepertinya memang tak ada gunanya mendengar nyanyian musim musim
Menengadah pada bulan merah jambu
Atau berdiri tegak pada surya jingga
Masihkah debu punya arti ?
Sepertinya tak perlu aku berhenti
Adakah sebuah persimpangan?
Adakah sunyi yang mendengkur keras?
Ataukah ada keramaian dalam perarakan Pulang?
Tua tak lagi ada cerita dan muda tak lagi menyimpan kenangan
Dan diatas bumi ini
Sebatang kamboja terbisu diam.
(didedikasikan kepada Indonesia yang menangis........)
Selasa, 06 Oktober 2009
Bukan Maksud Ku...
derai-derai rasa
tersendat karena cita
cita tenggelam dalam realita
realitaku adalah hidupku
noktah-noktah putih
bersenda derai. kepongpong
mekar. sang raja muncul dari hasrat
jalinan tinta
bersulam dalam kata
aku bisu karena hitam
sehitam rasa dalam denyut
biarlah senda dan gurau mengalir
aku juga mengalir
tapi aliranku kan kututup botol merah
semerah bara
bara dalam nikmat, dilema, bara yang akan membara
bara melahap sekitarnya
tintaku, harianku keupenuhi serabutmu
bagaimana kau menari
bagaimana bersulam jari-jari asmara.
rindu kankulap masa, lepas landas
dalam cerita fiktif.
benci menganga, kau buat borok.
kau berani bermain, tapi kau takut
kalah, jatuh, tersungkur. kau sia-siakan
hidupmu dengan paruh jahatmu.
tersendat karena cita
cita tenggelam dalam realita
realitaku adalah hidupku
noktah-noktah putih
bersenda derai. kepongpong
mekar. sang raja muncul dari hasrat
jalinan tinta
bersulam dalam kata
aku bisu karena hitam
sehitam rasa dalam denyut
biarlah senda dan gurau mengalir
aku juga mengalir
tapi aliranku kan kututup botol merah
semerah bara
bara dalam nikmat, dilema, bara yang akan membara
bara melahap sekitarnya
tintaku, harianku keupenuhi serabutmu
bagaimana kau menari
bagaimana bersulam jari-jari asmara.
rindu kankulap masa, lepas landas
dalam cerita fiktif.
benci menganga, kau buat borok.
kau berani bermain, tapi kau takut
kalah, jatuh, tersungkur. kau sia-siakan
hidupmu dengan paruh jahatmu.
Sore Itu...
Ketika Senja Ingin Kembali Keperaduan...
Terdengar Dari Sebrang Sana Pekik Yang Memilukan...
Melengking,Seiring Suara Reruntuhan...
Jerit Dan Tangis Membaur Menjadi Satu...
Dengan Rasa Takut Dan Was-Was...
Bak Mimpi Semalam...
Hanya Sekejap Mata...
Semua Luluh Lantak Rata Dengan Tanah...
Tetes Air Mata Yang Belum Mengering...
Kembali Membasahi Pipi Nan Ranum Ibu Pertiwi...
Hati Menjerit..Nurani Merontak..Melihat Apa Yang Terjadi...
Tuhan...
Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Bangsa Kami...
Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Rakyat Kami...
Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Negeri Kami...
Negeri Ini Telah Rapuh Tuhan...Bangsa Ini Sudah Renta...
Dosa Apa Yang Telah Kami Perbuat Kepada Mu..
Hingga Engkau Berikan Cobaan Yang Sedemikian Berat Kepada Bumi Ini...
Kepada Nusantara Ku Tercinta...Kepada Indonesia...
Tuhan...
Ampunilah Hamba Yang Lalai...
Yang Tak Mampu Merawat...
Yang Tak Bisa Menjaga Anugrah Yang Engkau Berikan Kepada Kami...
Tuhan Sudahilah Tetes Air Mata Yang Mengalir Di Negeri Ini...
Air Mata Kami Telah Kering,Karna Tangis Yang Tiada Henti...
Tuhan Sudahilah Semua Cobaan Ini,Semua Bencana Yang Terjadi Di Negeri Kami...
Tuhan...
Engkau Maha Agung...
Engkau Maha Pengasih...
Engkau Maha Bijaksana...
Dan Engkau Maha Penyayang...
Tuhan...
Hentikan Derai Air Mata Bangsa Ini...
Hanya Engkau Yang Mampu...
Hanya Engkau Yang Bisa...
Hanya Kepada Mu Kami Berserah Diri...
Terdengar Dari Sebrang Sana Pekik Yang Memilukan...
Melengking,Seiring Suara Reruntuhan...
Jerit Dan Tangis Membaur Menjadi Satu...
Dengan Rasa Takut Dan Was-Was...
Bak Mimpi Semalam...
Hanya Sekejap Mata...
Semua Luluh Lantak Rata Dengan Tanah...
Tetes Air Mata Yang Belum Mengering...
Kembali Membasahi Pipi Nan Ranum Ibu Pertiwi...
Hati Menjerit..Nurani Merontak..Melihat Apa Yang Terjadi...
Tuhan...
Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Bangsa Kami...
Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Rakyat Kami...
Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Negeri Kami...
Negeri Ini Telah Rapuh Tuhan...Bangsa Ini Sudah Renta...
Dosa Apa Yang Telah Kami Perbuat Kepada Mu..
Hingga Engkau Berikan Cobaan Yang Sedemikian Berat Kepada Bumi Ini...
Kepada Nusantara Ku Tercinta...Kepada Indonesia...
Tuhan...
Ampunilah Hamba Yang Lalai...
Yang Tak Mampu Merawat...
Yang Tak Bisa Menjaga Anugrah Yang Engkau Berikan Kepada Kami...
Tuhan Sudahilah Tetes Air Mata Yang Mengalir Di Negeri Ini...
Air Mata Kami Telah Kering,Karna Tangis Yang Tiada Henti...
Tuhan Sudahilah Semua Cobaan Ini,Semua Bencana Yang Terjadi Di Negeri Kami...
Tuhan...
Engkau Maha Agung...
Engkau Maha Pengasih...
Engkau Maha Bijaksana...
Dan Engkau Maha Penyayang...
Tuhan...
Hentikan Derai Air Mata Bangsa Ini...
Hanya Engkau Yang Mampu...
Hanya Engkau Yang Bisa...
Hanya Kepada Mu Kami Berserah Diri...
Kamis, 10 September 2009
" ZAM-ZAM CINTA "
ZAM-ZAM CINTA
Wow mantra itu
Membawaku mengitari melekul-melekul cinta
Bersujud pada dzat tak berwujud
Rukuk berbungkuk
dihamparan permadani-permadani kerinduan
Berseloroh, bercanda, berpesta dengan narkoba wahdat
Ekstasi itu menebarkan virus-virus
Syauq disekujur tubuh yang ringkih
Ku sakau pada-Nya
Wow laura-laura itu
Mendobrakku, menelusup dirusuk latifku
Membuat Fatimah-Fatimah baru dalam hidupku
Kuberikan senyum tasbih di altara-altara Sidroh Muntaha
Kubungkam dengan seribu mawar menghantarkan
Wewangian malam pertama di babar Rahmah
Wow musafir-musafir itu
Menggelombangkanku menuju pantai kasmaran
Mengehempaskan kalbu merengkuh rindu rabbani
Bermusafir diri bersama tongkat Musa
Membelit penyihir –penyihir angkara
Kutahajjudkan hatiku bersama Ayyub
Meraih bongkah-bongkah tawakkal di panggung kemunafikan
Kuhentakkan kakiku bersama kaki Ismail
Membuncah zam-zam cinta
Kutunggangi unta Sholeh
Bertawaf bersama burung-burung Ababil
berlayar bersama Nuh mengarungi samudara ilah
Menepi di pantai su
rgawi bersenda dengan bidadari-bidadari
Wow..wow…wow
Kenapa memgapai tahta
bernafsu cinta buta
memburu harta
melalang meneriakkan surgawi
kalau hati penuh benci
kenapa memburu harga diri
wong dermaga
Bersemayam dalam diri
Dermaga illahi
Wow mantra itu
Membawaku mengitari melekul-melekul cinta
Bersujud pada dzat tak berwujud
Rukuk berbungkuk
dihamparan permadani-permadani kerinduan
Berseloroh, bercanda, berpesta dengan narkoba wahdat
Ekstasi itu menebarkan virus-virus
Syauq disekujur tubuh yang ringkih
Ku sakau pada-Nya
Wow laura-laura itu
Mendobrakku, menelusup dirusuk latifku
Membuat Fatimah-Fatimah baru dalam hidupku
Kuberikan senyum tasbih di altara-altara Sidroh Muntaha
Kubungkam dengan seribu mawar menghantarkan
Wewangian malam pertama di babar Rahmah
Wow musafir-musafir itu
Menggelombangkanku menuju pantai kasmaran
Mengehempaskan kalbu merengkuh rindu rabbani
Bermusafir diri bersama tongkat Musa
Membelit penyihir –penyihir angkara
Kutahajjudkan hatiku bersama Ayyub
Meraih bongkah-bongkah tawakkal di panggung kemunafikan
Kuhentakkan kakiku bersama kaki Ismail
Membuncah zam-zam cinta
Kutunggangi unta Sholeh
Bertawaf bersama burung-burung Ababil
berlayar bersama Nuh mengarungi samudara ilah
Menepi di pantai su
rgawi bersenda dengan bidadari-bidadari
Wow..wow…wow
Kenapa memgapai tahta
bernafsu cinta buta
memburu harta
melalang meneriakkan surgawi
kalau hati penuh benci
kenapa memburu harga diri
wong dermaga
Bersemayam dalam diri
Dermaga illahi
Selasa, 01 September 2009
" EDELWIS "
Parasmu memukau ,kecantikan dan keabadian Mu tersohor.
Pertama kalinya Ku sentuh tangkai Mu Saat Umur Ku Masih Belasan Tahun,Kharisma yg terpancar Membuat Ku Gagum,Engkau Bunga Pujaan Setiap Insan.
Dulu Engkau Menghiasi Rekung Hati.Kini Engkau Hanya Kenangan Manis Dalam Hidup Ku.Dirimu Telah Pergi Dan Musnah Terbakar Asmara Yg Gundah Gulana.Lebur Bersama Abu Cinta Dalam Sanubari.Musnah Dan Menjadi Kenangan Masa Lalu Yg Hingga Kini Tak Dapat Ku Lupakan Dalam Ingatan.
Engkau Bunga Ku.
" EDELWIS "
Hanya Diri Mu Yg Ku Anggap Pantas Menjadi Hiasan Dalam Ruang Ruang Hati Ku.
Hanya Diri Mu Yg Membuat Hidup Ku Tentram Menjalani Kehidupan Fana Ini.
Engkaulah Pelipur Lara,Ketika Raga Mulai Rapuh Dan Lelah Menjalani Hidup Yg Kian Renta.
Seiring Waktu Yg Berlalu,Ku Coba Mencari Pengganti Mu Tuk Menghiasi Relung Hati Ku.
Namun Hingga Kini Tak Ku Temukan Wujud Mu.
Hanya Engkau Yg Pantas Menempati Vas Dalam Ruang Hati Dalam Taman Sanubari.
Meski Vas Yg Ku Berikan Tak Seindah Adanya,Meski Taman Yg Ku Janjikan Tak Seindah Taman Surga.
" EDELWIS "
Hanya Diri Mu Yg Masih Pantas Menempati Vas Bunga Dalam Relung Taman Hati.
Meski Tak Seindah Yg Engkau Bayangkan,Tapi Diri Mu Menerima Apa Adanya.
Engkaulah Bunga Pujaan Ku,Diri Mu Yg Pantas Ku Kenang.
" EDELWIS "
Beberapa Bulan Yg Lalu Ku Temukan Satu Sosok Yg Ku Anggap Pantas Menggantikan Wujud Mu.
Tuk Tempati Vas Dalam Relung Taman Hati Ini,Tapi Tuhan Berkehendak Lain Dan Berkata :
Mungkin Ia Pantas Menggantikan EDELWIS Mu Yg Telah Hilang,Namun Vas Itu Tak Pantas Untuknya.
Namun Bila Kau Yakin Vas Itu Pantas Kau Persembahkan Untuknya,Tetaplah Pada Pendirian Mu.
Semoga Suatu Hari Nanti Ia Akan Menempati Vas Nan Cantik Dalam Relung Taman Hati Mu Wahai Pemilik Vas.
" EDELWIS "
Aku Rindu Pada Mu..
Aku Rindu Senyum Mu..
Aku Rindu Belai Jemari Mu..
Dan Aku Rindu Hangat Peluk Mu...
Pertama kalinya Ku sentuh tangkai Mu Saat Umur Ku Masih Belasan Tahun,Kharisma yg terpancar Membuat Ku Gagum,Engkau Bunga Pujaan Setiap Insan.
Dulu Engkau Menghiasi Rekung Hati.Kini Engkau Hanya Kenangan Manis Dalam Hidup Ku.Dirimu Telah Pergi Dan Musnah Terbakar Asmara Yg Gundah Gulana.Lebur Bersama Abu Cinta Dalam Sanubari.Musnah Dan Menjadi Kenangan Masa Lalu Yg Hingga Kini Tak Dapat Ku Lupakan Dalam Ingatan.
Engkau Bunga Ku.
" EDELWIS "
Hanya Diri Mu Yg Ku Anggap Pantas Menjadi Hiasan Dalam Ruang Ruang Hati Ku.
Hanya Diri Mu Yg Membuat Hidup Ku Tentram Menjalani Kehidupan Fana Ini.
Engkaulah Pelipur Lara,Ketika Raga Mulai Rapuh Dan Lelah Menjalani Hidup Yg Kian Renta.
Seiring Waktu Yg Berlalu,Ku Coba Mencari Pengganti Mu Tuk Menghiasi Relung Hati Ku.
Namun Hingga Kini Tak Ku Temukan Wujud Mu.
Hanya Engkau Yg Pantas Menempati Vas Dalam Ruang Hati Dalam Taman Sanubari.
Meski Vas Yg Ku Berikan Tak Seindah Adanya,Meski Taman Yg Ku Janjikan Tak Seindah Taman Surga.
" EDELWIS "
Hanya Diri Mu Yg Masih Pantas Menempati Vas Bunga Dalam Relung Taman Hati.
Meski Tak Seindah Yg Engkau Bayangkan,Tapi Diri Mu Menerima Apa Adanya.
Engkaulah Bunga Pujaan Ku,Diri Mu Yg Pantas Ku Kenang.
" EDELWIS "
Beberapa Bulan Yg Lalu Ku Temukan Satu Sosok Yg Ku Anggap Pantas Menggantikan Wujud Mu.
Tuk Tempati Vas Dalam Relung Taman Hati Ini,Tapi Tuhan Berkehendak Lain Dan Berkata :
Mungkin Ia Pantas Menggantikan EDELWIS Mu Yg Telah Hilang,Namun Vas Itu Tak Pantas Untuknya.
Namun Bila Kau Yakin Vas Itu Pantas Kau Persembahkan Untuknya,Tetaplah Pada Pendirian Mu.
Semoga Suatu Hari Nanti Ia Akan Menempati Vas Nan Cantik Dalam Relung Taman Hati Mu Wahai Pemilik Vas.
" EDELWIS "
Aku Rindu Pada Mu..
Aku Rindu Senyum Mu..
Aku Rindu Belai Jemari Mu..
Dan Aku Rindu Hangat Peluk Mu...
Minggu, 09 Agustus 2009
RINDU NYANYIAN ALAM

Disepinya malam dalam kesendirian pada bulan Oktober
Kerinduanku akan irama musikmu bernada
Gesekan dawai dedaunan menimbulkan melodi yang mendayu
Tiupan angin yang dingin megalunkan suara seruling gembala
Gemeriecik air sungai berirama mengalunkan kehidupan
Lengkingan tujuh oktav owa jawa menembus kalbu
Sahut bersahut suara satu, dua dan tiga burung-burung berlagu
Gagak kecil hitam berganti-ganti terbang dan berjalan
Tarian bajing-bajing kecil dicatwalk pepohonan
Tetesan embun membasahi dedaunan pancarkan kilaunya mutiara disinar mentari
Semerbak aroma tanah nan subur penuh kaya
Hamparan hijaunya lumut membentang terbagi
Dalam sorotan sinar-sinar mentari yang menembus sela-sela rimbunnya belantara
Semuanya berselimutkan balutan tipis dinginnya halimun
Menyambut datangnya pagi dalam nyanyian alam
Lagu-mu dan nyanyian-mu akan selalu ada dalam rinduku
Berharap nyanyian-mu akan sealalu dan tetap abadi mengiringi kehidupan dunia
HBS
http://www.facebook.com/harley.sastha?ref=profile
Bogor, September 2007
(Dapat juga dibaca di dalam buku Seri Pendakian Gunung-gunung di Indonesia "MOUNTAIN CLIMBING FOR VERYBODY" - seri pertama)
Sabtu, 01 Agustus 2009
DIMANA ENGKAU
DIMANA ENGKAU
saat ku menangis?
saat ku sendiri?
Ini kali kesekian mencari engkau
bukan diantara leuit kau kucari
bukan diantara padang ilalang-nya...
di sela rincik bening air sungai Parahyangan ku benamkan kaki, juga bukan...
di sudut cadas jalanan yang membekukan rasa takut, bukan pula...
Kuharap kau ada diantara juta bintang,
malam itu di langit Kanekes...
Akhirnya,
malam kelam, muram, aku sendiri, dicekik harap,
sedih penghabisan.
Kita t'lah bungkam dalam ketiadamengertian...
sampai kapan?
sampai mimpi itu berakhir-kah?
Teruslah bermimpi... aku hendak buka jendela kamarku...
Agar mentari memburatkan sinarnya
meluruhkanku dalam kelopak cinta...
saat ku menangis?
saat ku sendiri?
Ini kali kesekian mencari engkau
bukan diantara leuit kau kucari
bukan diantara padang ilalang-nya...
di sela rincik bening air sungai Parahyangan ku benamkan kaki, juga bukan...
di sudut cadas jalanan yang membekukan rasa takut, bukan pula...
Kuharap kau ada diantara juta bintang,
malam itu di langit Kanekes...
Akhirnya,
malam kelam, muram, aku sendiri, dicekik harap,
sedih penghabisan.
Kita t'lah bungkam dalam ketiadamengertian...
sampai kapan?
sampai mimpi itu berakhir-kah?
Teruslah bermimpi... aku hendak buka jendela kamarku...
Agar mentari memburatkan sinarnya
meluruhkanku dalam kelopak cinta...
Langgan:
Entri (Atom)





