Sunday, May 31, 2009

PEREMPUAN DI SUDUT KAFE









Kafe Coneflower, sebuah Jumat jam lima sore

Jumat sore, kafe ini mulai ramai. Kebanyakan tamu adalah anak remaja yang datang minimal berdua atau bertiga. Lokasinya yang terletak di lantai tiga sebuah mal besar yang berdiri menjulang di tengah ibukota memang sangat strategis untuk jadi tempat rendezvous. Aku sedang menghirup kopiku ketika dia datang, dan duduk di depanku. Dia selalu datang di hari yang sama, jam yang sama, dan duduk di sudut yang sama. Sendirian. Ini adalah kali ke empat aku melihatnya bulan ini, dan menurut seorang waiter, dia memang selalu datang ke kafe ini tiap minggunya. Sudut itu sengaja dikosongkan untuknya di setiap Jumat jam lima sore, tidak peduli betapapun ramainya kafe ini. Dia selalu meninggalkan persenan yang cukup besar setiap datang, bisik waiter itu sambil tersenyum penuh arti.

Barang bawaannya selalu sama. Sebuah laptop tipis, sebuah handphone mungil, dan sebuah dompet hitam. Duduk di sudut yang sama, melakukan hal yang sama. Pertama dia akan menguncir rambut panjangnya, dan membuka kemudian menyalakan laptopnya. Kemudian tidak melakukan apa-apa, hanya menatap ke luar jendela, sambil menghirup secangkir kopi. Bahkan dia tidak perlu repot memesan, karena semua waiter dan waitress di sana sudah tahu apa yang dia sukai. Secangkir kopi panas dan sepiring cheese cake. Setelah lima atau sepuluh menit menatap ke luar, dia akan mulai mengetikkan sesuatu di laptopnya, sambil diselilingi sesuap cheese cake atau menghirup kopi. Setelah beberapa lama mengetik, dia akan berhenti dan menyandarkan punggungnya ke kursi, dan bila kopinya habis, akan memesan secangkir lagi. Dia akan menatap ke luar jendela lagi, dan bila langit sudah gelap, aku akan bisa melihat pantulan wajahnya di kaca.

Wajahnya tidak terlalu cantik, tidak bisa dibandingkan dengan bintang film atau model majalah. Namun ada sesuatu di pancaran matanya yang membuatku tidak bisa melepaskan pandangan darinya. Postur tubuhnya menunjukkan kalau dia sedang melamun, namun mata itu bukan mata seorang pelamun. Mata itu begitu hidup. Begitu bersinar. Dia seolah tenggelam dalam dunianya sendiri.

Kali ke enam aku melihatnya, aku memutuskan untuk menghampirinya. Selama ini tidak terlihat seorangpun menemaninya, jadi kupikir tidak akan ada yang marah bila aku berkenalan.

“Halo,” sapaku. Dia mendongak, mengernyitkan dahi. Aku menarik kursi kosong di depannya dan duduk.

“Saya lihat Anda selalu menuliskan sesuatu di laptop Anda, apakah Anda seorang penulis?” tanyaku sambil tersenyum.

“Mungkin bisa dibilang begitu,” jawabnya sambil tersenyum. Ternyata dia cukup ramah.

“Apakah saya pernah membaca buku Anda? Saya sangat suka membaca, terutama novel.”

Dia tersenyum, mengedikkan bahunya. “Entahlah. Mungkin pernah, mungkin belum.”

Aku tertawa. “Rupanya Anda termasuk seorang penulis yang memakai nama samaran dalam tulisannya, begitu?”. Dia hanya mengangkat alisnya sambil menelengkan kepala, bisa iya bisa tidak.

“Saya Reno.” Aku mengulurkan tangan. Dia terlihat sedikit ragu, namun kemudian menyambut tanganku.

“Maya,” dia memperkenalkan dirinya. “Anda bilang Anda suka membaca, buku apa yang pernah Anda baca?”

“Lumayan banyak, kebanyakan novel. Saya baru menyelesaikan Five People You Meet In Heavennya Mitch Albom dan kumpulan cerpen Intan Paramaditha, Sihir Perempuan.”

“Hm.. saya suka dua buku itu. Mitch Albom punya definisi yang unik mengenai surga,” katanya sambil memotong cheese cakenya dengan garpu.

“Ya,” sahutku. “Mungkin lebih tepatnya surga level satu. Level di mana kita bertemu dengan orang-orang yang tidak kita sadari telah merubah hidup kita, dan menjadikan kita yang seperti saat ini.”

Dia mengangguk. “Dan orang-orang itu kadang bahkan tidak kita kenal.”

Aku tertawa, kemudian menjulurkan tubuhku ke arahnya. “Dan mungkin Anda adalah salah satu dari lima orang yang akan saya temui di surga nanti.”

Dia tersenyum simpul. “Itu pun bila Anda masuk surga.” Kami tertawa keras, beberapa tamu kafe menegok ke arah kami. Maya menutup mulutnya menahan tawa yang masih menyembur keluar. Sinar matahari sore membuatnya seolah berpendar dengan cahaya.

“Intan membuat definisi baru tentang cerita horor Indonesia. Tidak selalu harus cheesy seperti yang ada sekarang,” dia melanjutkan.

“Menurut anda cerita horor kita cheesy?” Aku makin tertarik. Dia tidak hanya penuh dengan kehidupan, tapi juga selalu punya topik untuk dibahas. Ciri khas penulis, mungkin.

“Lebih cenderung norak. Selalu ada tokoh setan, hantu, jin, dan kawan-kawannya. Padahal siapa bilang kita sendiri tidak bisa menjadi setan. Tindakan kita kadang lebih setan dari setan.”

“Pernah lihat Secret Window atau Hide And Seek? Kelihatannya cocok dengan deskripsimu mengenai setan,” ujarku.

“Ya, aku sudah lihat kedua film itu. Setannya ada di dalam diri mereka sendiri.” Dia melirik jam tangan mungil yang melingkari lengan kirinya.

“Sudah malam, saya harus pulang,” katanya. Aku ikut melihat jam tanganku. Jam sembilan tiga puluh. Cepat sekali waktu berjalan. Dia mulai membereskan bawaannya. Aku berdiri.

“Terima kasih karena mau saya temani,” kataku sambil mengulurkan tangan. Dia menyambut tanganku dan menggenggamnya erat.

“Justru aku yang berterima kasih,” jawabnya sambil tersenyum. Kelihatannya dia mudah mengakrabkan diri dengan orang lain.

“O ya,” dia mengambil sesuatu dari dompetnya, sebuah kartu nama, “ini kartu namaku. Kamu bisa hubungi aku kapan saja.”. Aku mengambil kartu nama berwarna putih polos itu dari tangannya. Maya Adiwinata, 081612312, mayadiwinata@yahoo.com. Aku mengambil kartu namaku dan memberikannya.

“Kamu juga bisa menghubungi kapan saja,” kataku.

“Terima kasih,” dia membaca kartu namaku, “Reno Adrian.” Kami bangkit berdiri.

“Kuantar?” aku menawarkan diri. Dia menggeleng.

“Tidak usah, aku naik taksi saja.” Dia melangkah pergi. Aku menatap sekali lagi kartu namanya. Belum pernah kubaca namanya di buku-buku koleksiku, tapi aku akan cari tahu, penulis seperti apa dia.

Di rumah aku membuka sebuah situs pencari dan mengetikkan namanya. Maya Adiwinata.

“Cinta Mana Yang Utuh? karangan Maya Adiwinata mendapat penghargaan Indonesia Literature Award. Novelis dengan nama pena Tana Widia……”

“Satu lagi karya Tana Widia yang menjadi best seller. Maya Adiwinata, nama asli sang novelis…..

Tana Widia? Rupanya dia. Salah satu penulis favoritku. Aku punya paling tidak lima belas judul bukunya yang kukoleksi sejak lima tahun yang lalu. Ternyata Maya Adiwinata adalah Tana Widia.Aku memang jarang mengikuti acara peluncuran buku atau jumpa dengan penulis. Aku tidak ingin bayanganku tentang mereka ternyata tidak sesuai dengan aslinya. Sama seperti Tana Widia. Dari puluhan novel karyanya, kukira dia adalah perempuan tua berusia paling tidak setengah abad. Ternyata dia adalah seorang perempuan muda berusia, kutaksir, sekitar awal tiga puluhan. Rupanya dia termasuk penulis yang aktif. Dalam setahun paling tidak ada tiga bukunya yang diterbitkan. Dan menurut data yang kubaca, bukunya mulai diterbitkan ketika dia berusia dua puluh tahun. Berarti paling tidak sampai saat ini sudah sekitar tiga puluh buku sudah dia hasilkan. Luar biasa.

Aku membuka Yahoo Messenger dan mengetikkan namanya di add contact. Kulihat di kartu namanya dia memakai account Yahoo untuk emailnya, jadi ada kemungkinan dia juga menggunakan Yahoo Messenger. Icon namanya berwarna kuning, benar dugaanku.

thenameisreno: halo, Maya
mayadiwinata: halo, ini Reno?
thenameisreno: iya. Kamu belum tidur?
mayadiwinata: tanggung, tinggal bab terakhir.
thenameisreno: wah, aku ganggu ya?
mayadiwinata: nggak kok nggak.
thenameisreno: ternyata kamu Tana Widia ya
mayadiwinata: hahahahahaha ketahuan juga deh
thenameisreno: dan aku punya lima belas judul bukumu yang harus kamu tandatangani
mayadiwinata: haha beres beres
mayadiwinata: kalau ketemu nanti pasti aku tandatangan
thenameisreno: Kafe Coneflowers, Jumat jam lima?
mayadiwinata: boleh, aku selalu ada di sana tiap Jumat
thenameisreno: aku tahu
thenameisreno: aku juga ada di sana tiap hari dan jam yang sama
mayadiwinata: wah
mayadiwinata: rupanya kita sama sekali bukan orang asing ya
thenameisreno: kelihatannya begitu

satu tahun kemudian…

Postur tubuh dan tatapan yang sama. Maya, menatap ke luar jendela. Hanya saja kami sekarang sedang di sebuah hotel di Bandung.

“Ada apa dengan kamu dan jendela, May?” tanyaku sambil menyulut sebatang rokok. Maya menoleh, tersenyum.

“Bukan jendelanya, Reno. Tapi dunia di luar sana. Begitu banyak manusia, begitu banyak kehidupan.” Maya menatapku. “Begitu banyak yang bisa kutuangkan ke dalam tulisan.”

“Rokok ini akan membunuhmu suatu hari, Sayang.” Maya menghampiriku, merebut rokok di tanganku, dan mematikannya di asbak di samping tempat tidur. Aku merengkuh tubuhnya dan membaringkannya di tempat tidur.

“Kau tahu aku sangat mencintaimu?” bisikku ke telinganya. Maya balas memelukku.

“Tak mungkin lebih daripada cintaku padamu, Reno,” dia balas berbisik. Aku mengecup lehernya, perlahan menyelusuri bahunya. Dia tertawa kecil, melepaskan diri dari pelukanku.

“Sudah jam sembilan, sebentar lagi launching bukuku akan diselenggarakan.” Dia mengecup dahiku, dan melangkah menuju kamar mandi.

Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Ya, launching buku kali ini akan sangat spesial. Kami akan mengumumkan pertunangan kami. Aku dan Maya. Dan tahun depan kami akan menikah, mempunyai anak, memiliki kehidupan sendiri PAsti akan sangat indah..

Seperti dugaanku, semua berjalan lancar. Para wartawan dan penggemar Maya bertepuk tangan meriah ketika kami mengatakan bahwa kami akan segera menikah. Kilatan lampu blits berpendaran. Seorang penulis muda berbakat akan menikahi seorang pengusaha muda. Sempurna sekali

Pesta pernikahan kami juga sempurna. Maya mengenakan kebaya putih pemberian Ibuku. Aku mengenakan jas putih warisan Ayahku. Ribuan tamu berdatangan tanpa henti. Melelahkan, tapi kami sangat bahagia.

Kafe Coneflower, sebuah Jumat jam lima sore..

“Mau diisi lagi cangkirnya, Pak?” sebuah suara memanggilku. Aku mendongak. Seorang waitress memegang sebuah poci kopi sedang tersenyum ramah kepadaku. Aku menoleh ke sudut kafe. Dia masih ada di sana, masih berkutat dengan laptopnya. Aku menggeleng.

“Tidak perlu, saya sudah selesai,” jawabku. Waitress itu mengangguk dan berlalu. Aku berdiri, meninggalkan sejumlah uang sesuai yang tertera di tagihanku dan meninggalkan sedikit tip. Jumat depan aku akan datang lagi, mengamatinya, menikmatinya. Membuat khayalan baru lagi tentang aku dan dia…

Bersambung [cari bahan dulu yah] Hehhehehhee…..

No comments:

.,.,.,.,.

Loading...