Thursday, June 18, 2009

Chapter 11


Pucil
Aku baru saja sampai di kamar hotel setelah seharian keliling Bali. Oahm, mata terasa berat, ingin sekali aku membenamkan diri di atas kasur. But that’s out of the question. Hasil hunting kemarin mengecewakan. Sementara hari ini ada sederet daftar things-to-do yang harus segera dilakukan. Uh, kerjaan lagi. Coba lihat:
- Telpon Antique, cek undangan sudah sampai di mana perkembangannya.
- Telpon teman-teman yang belum kasih kabar, tagih konfirmasinya.
- Telpon Toska, tanya...
Eh, tunggu dulu.
Kok, ada Toska lagi di sini? Catatan ini aku buat kemarin malam, setelah anak itu ketahuan belangnya. Jadi, mestinya nama dia tidak perlu disebut-sebut lagi, kan? Kenapa sam…
Pintu diketuk. Aku nyaris terlonjak kaget.
“Cil?”
Hah? Suara Ganesha?
Aku beranjak untuk membuka pintu tanpa bisa menentukan perasaanku: senang atau malah kesal Ganesha ada di sini? Tunanganku itu berdiri di depan pintu, tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang berjajar sempurna. Ah, tidak... ternyata aku tidak kesal sama sekali. Aku balas tersenyum.
“Ini.”, katanya sambil menyerahkan amplop.
Terheran-heran aku menatap amplop tersebut.
Apaan, nih, Gan?
“Itu undangan kawinan gue.”
Aku menatapnya dengan heran. Loh, kok, tiba-tiba sudah jadi? Dan sejak kapan Ganesha memakai kata ‘gue’ untuk berbicara dengan aku? Di muka amplop terukir huruf-huruf cantik dengan warna emas.
E&G???
“Gue akhirnya nikah sama Edwina, Cil!”, kata Ganesha dengan wajah berseri-seri. Aku melongo.
What?
“Abisnya nungguin elo lama banget, ternyata lo kabur ke sini. Ya udah, deh.”, kata Ganesha lagi. Di tengah keterkejutanku, handphone-ku berbunyi dari dalam kamar.
“Nah, itu pasti Edwina. Dia baru mau kasih tahu elo, Cil. Lo bisa datang, kan?”
Lalu semuanya terasa berputar di kepalaku. Aku berlari menjauh dari Ganesha, menelusuri lorong hotel yang tiba-tiba jadi panjang tanpa ujung. Handphone terus berbunyi nyaring mengikuti gema langkahku, menjerit-jerit minta diangkat. Dari belakang bisa kudengar suara Toska tertawa-tawa dengan keras. Aaah! Hentikan!
Aku terus berlari lalu terjatuh dalam lubang tanpa ujung dan...
Hah!
Sialan! Cuma mimpi.
Aku terbangun dengan dada naik turun. Bunyi telpon masih menggema di dalam kamar. Ternyata ada SMS masuk.

From: Ganesha
Cil, cepet pulang, dong. SMS aku kalau kamu sudah ada di pesawat menuju Jakarta. Aku kangen. Banget.

Handphone aku dekap dengan perasaan lega.
Tarik nafas panjang, Cil. Kamu sudah mendarat kembali di dunia nyata. Tenang… tenang…
Ah, okey. Sepertinya Ganesha sudah tahu aku ada di sini. Hmmm... aku juga ingin pulang sebenarnya. Tapi masih ada satu tempat lagi yang harus aku kunjungi sebelum aku terbang ke Jakarta sore nanti. Sebuah tempat oke yang menjanjikan di daerah Uluwatu. Kudengar mereka baru buka dan lagi promosi. Siapa tahu aku bisa mendapat harga bagus. Akh! Tidak boleh menyerah!
Untung SMS tadi membangunkan aku, kalau tidak aku mungkin masih tewas dengan memprihatinkan di atas tempat tidur. Kejadian kemarin siang dengan Toska benar-benar menguras energi. Apalagi kunjungan-kunjungan ke beberapa tempat hanya bikin aku lemas. Lagi-lagi harganya enggak kena. Tiga kali dari budget kita, belum termasuk katering, bunga, minuman,... band? Rupanya bulan Agustus masih dianggap peak season oleh mereka, tidak ada harapan walau mereka bilang harganya sudah didiskon sekalipun. Makanya hari ini harus lebih semangat.
Aku melompat dari tempat tidur, meraih handuk dan melenggang ke kamar mandi sambil bersiul-siul. Hari ini pasti lebih baik. Aku tahu itu!


Bon-bon
“Gimana, Win, Pucil betul ada di Bali?”, tanya Ririn.
Edwina mengangguk.
“Iya, kemarin malam Ganesha sudah cek ke hotel. Pucil menginap di sana.”
“Iiih, Pucil! Kalau tahu mau ke Bali kan aku bisa ngikut. Lumayan, bisa bantuin teman sekalian liburan juga.”, kataku bercanda.
“Yeee, orang gila. Teman lagi stres masih mau dikerjain juga.”, celetuk Edwina sambil nyubit lenganku. Aku balas memukul bahunya. Anak satu itu kalau nyubit sakit banget.
“Jadi Senin dia sudah balik, kan, ya?”, tanya Ririn.
“Mudah-mudahan, sih, gitu. Kalau dari ceritanya, enggak mungkin Pucil ngambil cuti minggu-minggu ini.”
Aku mengangguk, teringat bazar tahunan proyek besar majalahnya Pucil.
“Hmmm, itu bagus. Soalnya aku ingin bilang ke dia kalau aku jadi datang ke kawinan dia.”, kata Ririn lagi. Diam-diam aku tersenyum.
“Hah! Serius bisa, Rin?”, tanya Edwina terkejut. Ririn tertawa-tawa sambil mengangguk. Kita memang belum sempat cerita ke Edwina, semua terlupakan karena heboh mencari Pucil.
“Lagian siapa tahu malah dapat jodoh di sana. Ya, enggak, Bon?”, Ririn mengedipkan mata ke arahku. Wah, betapa bedanya anak itu sekarang dibanding malam kemarin. Jagoan memang, nih, Bon-bon! I’m so damn proud of myself. Hihihi.
“Sayang, kamu enggak bisa datang, ya, Win? Padahal kalau bisa kita bakal ramai-ramai nongkrong di depan kolam renang. Gaya, kaya turis. Ih udah lama banget kita enggak liburan bareng, ya?”, godaku, mencoba bikin Edwina iri. Tapi si ibu-ibu galak ini malah tersenyum-senyum sendiri dengan jail membuat aku dan Ririn saling pandang-pandangan dengan heran.
“Lo enggak bisa datang, kan? Win?”, tanya Ririn.
“Pokoknya sisain aja satu tempat duduk ekstra di samping kolam renang, ya?”, jawab Edwina tersenyum genit. Aku dan Ririn melongo sesaat, lalu berteriak kegirangan. Gila, jadi anak ini bisa datang? Seru bangeeet! Gimana ceritanya anak jelek ini, kok, tiba-tiba jadi bisa ikut ke Bali?


Edwina
Bon-bon dan Ririn berteriak-teriak heboh waktu gue bilang bisa ikutan pergi. Gue jadi malu sendiri karena tamu-tamu yang lain sekarang menoleh sambil melotot kearah kami bertiga.
“Hush! Hush!”, seruku sambil tertawa. Mereka lalu nodong gue untuk cerita dengan komplit ada apa dibalik kabar besar ini. Hahaha. Jadi berasa artis yang diwawancara detektif infotainment, nih.
Sebenarnya semenjak Mas Arief bilang kalau dana enggak memungkinkan, gue sudah berhenti berharap. Gue belajar untuk enggak memupuk harapan yang cuma akan bikin gue sakit di kemudian hari. Ini bukan pesimis, tapi toleransi. Toleransi bukanlah tentang mendapatkan semua yang kita inginkan, kan? Tapi justru menyusun prioritas dan belajar melepas demi kepentingan yang lebih utama.
Sampai kemarin malam, sesudah Ganesha telpon, Mas Arief tahu-tahu bertanya,
“Ada apa, sih, Win? Malam-malam begini handphone-mu kok bunyi terus?”
“Ganesh lagi pusing, tuh, Mas. Si Pucil enggak jelas keberadaannya.” Mas Arief terkejut mendengar jawaban gue.
“Lha, kok bisa hilang? Siapa yang nyolong?”
“Bukan hilang, sih, sebenarnya. Pucil cuma pergi ke Bali sendirian. Mau survey tempat, barangkali. Semua dibikin bingung, soalnya dia sama sekali enggak bilang sama kita. Habisnya Ganesha juga enggak pernah jelas turun tangannya, sibuk sama kerjaannya.”, jawab gue sambil selonjoran dengan malas di sofa.
“Bahkan sama kalian juga Pucil enggak cerita?”, tanya Mas Arief lagi. Suami gue itu tahu benar betapa gue dekat dengan tiga orang sahabat gue. Sampai sering dibercandain dengan sebutan ‘pacar-pacar gue’ sama Mas Arief.
“Iya itu lah, Mas. Jum’at kemarin kan aku sudah cerita sama dia kalau kita enggak bisa datang. Eh, enggak tahunya Ririn juga enggak bisa. Bon-bon lagi pakai ikut-ikutan mogok dateng juga. Ya jadi, deh, si Pucil tambah stres.”, kata gue mulai mengantuk. Seharian ini Andien ngajak main terus. Minta digendong, diayun-ayun sambil dinyanyikan lagu. Tangan gue sampai pegal, itu anak sudah berat sekarang. Gendut, bikin gemas saja!
“Kalau gitu bilang aja sama Pucil kita bisa datang.”, kata Mas Arief dengan kalem. Gue melirik Mas Arief dengan sebal.
“Terus apa gunanya juga kalau ujung-ujungnya enggak bisa? Malah bikin dia kecewa besar nanti. Enggak apa-apa lah Mas, Bon-bon pasti bisa datang, kok. Paling enggak ada yang mewakili lah.”, kata gue. Duh, mata mulai berat, nih.
“Kalau kita beneran bisa dateng, gimana?”
Mata gue langsung tergenjot untuk melek lagi. Buyar kantuk gue seketika. Gue menegakkan badan, terduduk di sofa.
“Betulan bisa datang, gimana, Mas?”, tanya gue kaget.
“Sebenarnya aku ingin ngomongin ini sama kamu besok pagi. Tapi mumpung nyambung sama topiknya, sekarang aja aku bilangnya.”, kata Mas Arief sambil nyengir. Ih, garing banget pakai topik-topikan segala.
“Kita bisa berangkat? Serius, nih, Mas?”, tanya gue enggak percaya. Mas Arief mengangguk.
“Gimana ceritanya? Kok bisa? Bukannya kemarin Mas Arief bilang dananya enggak ada?”, gue memberondong Mas Arief dengan pertanyaan. Sumpah, enggak lucu kalau ternyata ini cuma bohong-bohongan saja!
“Kamu tahu kan tiap tengah tahun kantorku selalu ngasih bonus buat karyawan berprestasi?”
Gue mengangguk.
“Tebak siapa salah satunya?”, kata Mas Arief sambil tersenyum. Gue melotot enggak percaya. Gila, ini kebetulan yang luar biasa! Gue melompat dan langsung memeluk suami gue itu. Mas Arief tertawa-tawa melihat kelakuan gue.
“Dan uang bonusnya bisa kita pakai buat pergi ke sana. Kita bertiga.”, kata Mas Arief lagi sambil membetulkan kacamatanya yang mengsol-mengsol kena serbuan pelukan gue.

“Jadiii... Bali i’m comiiing!”, kata gue mengakhiri cerita yang disimak tanpa tanpa sela oleh Ririn dan Bon-bon. Mereka benar-benar takjub mendengar cerita gue.
“Ini pertanda, Win!”, ujar Ririn dengan semangat.
Nah, karena sekarang Ririn juga pasti jadi berangkat, kita bertiga langsung heboh membicarakan rencana ke Bali dua bulan lagi. Sekarang tinggal tunggu kepastian dari Pucil, jadi enggak, nih, nikah di Bali? Ah, andai saja Pucil ikut duduk di meja ini, dia pasti girang bukan main. Dan pastinya, terpompa lagi semangatnya.


Pucil
Semangatku melorot habis-habisan. Tempat di Uluwatu yang tadi pagi terlihat menjanjikan ternyata tidak masuk ke budget juga. Memang mereka lagi promosi, diskon gila-gilaan buat venue-nya. Tempatnya juga bagus banget, aku sudah kebayang kalau jadi nikah di situ, suasananya keren banget. Lilin di sana sini, bunga mawar di mana-mana. Tapi ternyata harganya masih kurang cocok… lagi! Gila, itu sudah harga diskon padahal. Dan sekarang harapan satu-satunya terpaksa harus masuk tempat sampah, bersamaan dengan semua impianku.
Ah!
Aku kembali ke hotel lebih cepat dari yang kuperkirakan. Sesungguhnya PR-nya si Uluwatu tadi menawarkan tour singkat keliling venue, tapi aku pikir buang-buang waktu saja. Toh sudah pasti tidak akan kami booking.
Sekali lagi aku menghempaskan diri di atas kasur.
Yah, Cil, apa betul-betul sudah mentok? Apa ini pertanda aku harus menyerah dan ikut rencana Om Rio saja?
Aku melirik jam dengan bimbang. Ah, masih ada 4 jam lagi sebelum aku harus berangkat ke airport. Waktu yang tanggung sekali. Benci aku. Untuk mencari tempat kurang lama, buat diam saja nunggu di kamar juga kelamaan, menyiksa pula! Baru aku ingin meraih remote TV, telpon hotel di meja samping tempat tidur berbunyi.
Hmmm, apa lagi, nih?
“Halo?”
“Cil? Ganggu enggak? Ini Toska...”, kata suara di ujung sana dengan pelan. Aduuuh, kenapa harus ada gangguan lagi, sih? Harus, ya, anak ini nongol di saat seperti ini? Nyari gara-gara saja! Kesal aku jadinya. Lagipula bagaimana dia bisa tahu aku menginap di hotel ini, sih?
“Kenapa, Tos?”, tanyaku datar.
“Gue ingin ngomong sebentar sama elo, Cil. Boleh?”
“Enggak.”, kataku cepat. Mendengar suaranya saja aku sudah kesal, apalagi kalau harus ketemu dia. Sesaat tidak ada suara dari ujung telpon.
“Cil, jangan gitu, dong. Paling enggak kasih gue kesempatan buat jelasin.”
Aku mengernyit. Idih, apa-apaan, sih, nih. Kok, jadi kayak adegan di sinetron begini? Aku diam saja, dengan ganggang telpon menggantung di telinga.
“Lima menit aja, Cil. Habis itu gue janji enggak ganggu elo lagi.”, kata Toska.
“Lima menit, enggak lebih.”, jawabku akhirnya.
“Iya. Mau gue yang naik ke kamar atau lo yang turun ke lobi?”
Aku terdiam sambil berpikir.
“Ke atas aja. Kamar 1234.”, jawabku. Kupikir kalau 5 menit ngobrol itu berubah jadi acara kesal-kesalan, tidak lucu juga kalau harus terjadi di lobi. Malah jadi tontonan banyak orang.
Tidak lama Toska muncul.
“Apaan lagi, Tos? Ngomong-ngomong nama lo betulan Toska bukan, sih? Jangan-jangan bohong juga.”, kesalku langsung meluncur. Aku memang tidak mudah jengkel dengan orang, tapi kalau sudah begini aku bisa berubah jadi ratu silet sejagat. Jadi jangan macam-macam sama Pucil!
Toska menghela nafas panjang.
“Gue enggak ada maksud buat bohong ke elo, Cil. Bener, deh. Gue enggak pernah nyangka kalau kenalan dengan elo lewat Friendster bisa bikin kita jadi teman baik.”
“Tapi nyatanya elo bohong, Tos. Mungkin buat lo itu hal yang sepele, tapi lo kebayang enggak, berbulan-bulan gue percaya banget sama elo sampai bisa curhat panjang lebar, terus tiba-tiba elo nongol sebagai cowok. ”, aku langsung menyela.
“Iya, Cil. Gue salah. Banget. Tapi waktu awal kita chat itu, gue pikir kita cuma akan kenal sambil lalu saja. Tau, kan, kayak yang cuma hai-hai-an, terus selesai. Gue pikir lucu aja kalau gue bisa menyulap diri gue jadi perempuan dan bikin orang lain percaya. Awalnya memang buat main-mainan Cil, gue enggak kepikir itu akan berkembang sampai di titik ini. Ternyata gue merasa nyaman chat sama elo. Dan sebelum gue sadar, kita berdua sudah jadi teman baik, gue benar-benar bingung harus gimana.”, kata Toska.
“Bingung?”, aku melirik cowok itu dengan malas.
“Iya. Bingung gimana ngomongnya. Karena gue tahu apa pun yang gue bilang, pasti bikin lo marah. Dan gue enggak ingin kehilangan teman ngobrol yang asyik. Terlebih lagi, gue enggak ingin bikin lo marah. Makanya Cil, gue enggak pernah ngasih nomor telpon ke elo, enggak pernah ngasih foto-foto, atau ngenalin teman-teman gue ke elo. Gue enggak pingin elo tahu dari orang lain.”
“Hmmm... jadi kalau gue enggak datang ke Bali, lo enggak bakal bilang? Lo terus-terusan nyamar jadi perempuan di depan gue, gitu?”, tanyaku.
“Bukannya begitu. Sebenarnya, bulan depan gue sudah merencanakan datang ke Jakarta buat ketemu elo. Atau kalau elo dan Ganesha ke sini buat ngurusi kawinan lo, Cil. Gue pikir hal seperti ini lebih baik diomongin langsung daripada lewat chatting di internet. Jadi semuanya jelas dan tuntas. Ternyata elo sudah duluan nge-gap gue. Asli, gue kaget waktu ngeliat lo datang di warnet kemarin. Makanya sebelum elo balik ke Jakarta, gue ingin buka semuanya. Enggak ada bohong-bohongan lagi, Cil. Gue janji.”
Aku terdiam masih pasang wajah cemberut. Diam-diam aku berpikir. Sebenarnya aku masih ingin marah. Tapi kasusnya Toska ini klasik banget. Aku masih ingat dengan jailnya Edwina, sebelum anak itu nikah tentunya. Temanku itu kalau sudah kumat, bisa buka internet dan ngajak segerombolan orang yang enggak dikenal chat. Selalu ngaku yang tidak-tidak. Ngaku masih SMA-lah, ngaku jadi cowok, sampai ngaku tinggal di luar negeri. Dan yang diajak chat percaya aja, tuh! Lucu juga, sih, membaca balasan dari orang-orang yang diajak ngobrol. Tapi bedanya Edwina tidak pernah meneruskan hubungan dengan ‘teman-teman barunya’. ‘Putus di tempat!’, gitu katanya sambil tertawa-tawa dan mematikan internet. Jadi di satu sisi aku masih marah, di sisi lainnya aku mulai bisa memahami dilemanya Toska. Uh, lagian Ririn dari dulu sudah bilang, internet itu ibarat tempat tanpa dosa. Semuanya bisa terjadi dan tidak ada wasitnya. Kita sendiri yang harus berhati-hati supaya tidak kecemplung di lubang yang kita gali sendiri.
“Janji?”, tanyaku akhirnya.
Toska mengangguk, wajahnya terlihat lebih cerah sekarang. Aku menghela nafas panjang.
“Aduh, Tos, lo kenapa baru sekarang, sih, datangnya? Gue butuh teman buat bagi-bagi putus asa, nih, dari kemarin.” Toska terkekeh.
“Emangnya gampang ngumpulin nyali buat menghadapi cewek murka, Cil. Ini aja gue masih deg-degan. Eh, ngomong-ngomong gimana hasil surveynya?”, tanyanya. Aku kembali lesu.
“Kayaknya gue harus ngikut rencana Om Rio nikah di Jakarta, Tos. Enggak berhasil juga nyari yang sesuai budget. Heran, kenapa, sih, orang-orang sini masang harganya gila-gilaan gitu?”, keluhku. Belakangan ini aku jadi banyak mengeluh. Apa semua orang yang mau nikah kena penyakit ini, ya?
“Sudah pakai harga orang kita?”, tanya Toska.
Aku mengangguk.
“Iya lah. Harga bule lebih gila lagi. Tapi memang katanya Agustus masih masuk peak season, jadinya kena di harga tinggi.”, jawabku.
“Hmmm... lo maunya tempat yang kayak gimana, sih, Cil? Coba cerita lagi, deh.”
Aku mengendikkan bahu. Sejujurnya di titik ini soal tempat sudah tidak jadi patokan lagi. Mau di Jakarta juga tidak apa-apa, deh. Tapi membayangkan gaya nikahan ala tradisional seperti yang mama dan papa inginkan itu yang aku tidak mau. Apa gunanya punya nikahan besar-besaran kalau pengantinnya sendiri tidak bisa menikmati pestanya? Beda kalau aku bisa bikin pestanya berkali-kali. Kalau perlu apa yang semua orang inginkan, kita bikin sekalian biar tidak perlu pusing.
“Ayo, dong, cerita lagi.”, desak Toska.
“Maunya... hmmm... di pinggir pantai, pas sunset, romantis, tamu minimalis cuma orang-orang yang dekat dengan keluarga kita saja, terus... apa lagi, ya?”
“Harus di pinggir pantai? Maksud gue di atas pasir, gitu?”, tanya Toska.
“Enggak juga, sih, Tos, enggak harus benar-benar di atas pasir. Yang penting lautnya kelihatan dan suasana pantainya terasa. Kan nyambung sama tema romantis non-formal yang kita cari.”, jawabku.
“Hmmm... gue sebenarnya ada ide, sih, Cil. Tapi enggak tahu lo akan suka atau enggak.”, kata Toska membuatku penasaran.
Apa, Tos? Apa?
“Gimana kalau...”

No comments:

.,.,.,.,.

Loading...