Thursday, June 18, 2009

Chapter 7



: Tos, are you there?

: Yupe! Kenapa, Cil?

: Idih, kemana saja, sih, lo? Belakangan ini jarang banget online, deh! Bisa banget, ya, lo milih waktu yang pas buat menghilang!

: Wah, maaaf! Sumpah, deh, bukan maksud gue untuk menghilangkan diri, cuma lagi jarang bisa jaga warnet kakak gue aja, kok, Cil.

: Hihihi, iya iya, gue tahu, kok. Just teasing you. Eh, gue lagi browsing di internet. Banyak banget tempat yang bagus di Bali, gue jadi bingung.

: Hahaha. Ya iya lah. Bali gitu, loh. Semuanya komersil, semua disulap jadi sempurna demi turis. Termasuk industri pernikahannya. Sudah dapat yang cocok belum?

: Masih lihat-lihat, sih.

: Eh? Sudah hampir dua bulan, lho, Cil. Kok, masih browsing aja? Gue pikir lo udah booking tempat.

: Beluuum! Tapi gue juga lagi ngurus yang lain, sih. Undangan sama souvenir. Hmmm... sama baju pengantin juga.

: Lho, gimana mau buat undangan kalau tempatnya saja belum tahu?

: Yang penting disain dan warna dulu, deh, Tos. Karena ternyata menyamakan warna undangan di layar komputer dan di cetakan itu enggak gampang. Harus di-print berkali-kali sampai dapat yang pas atau paling enggak mendekati, deh. Penting, tuh, lo jadi tahu nanti kalau nikahan. Cowok suka malas mikir perintilan begitu.

: Hehehe, masa, sih? Memangnya Ganesha kenapa? Curhat curian, nih, kayaknya.

: Ah, sudah lah enggak usah diterusin lagi. Hari ini gue lagi mau santai di rumah sambil cek list persiapan gue. Jadi lebih baik jangan merusak mood.

: Iya iya, ampun, Cil. Tapi gue yakin Ganesha sama ribetnya kayak elo. Cuma dia lebih jago nyimpennya.

: Idih, sok tahu. Tungguin giliran lo nanti, Tos!

: Amieeen! Enggak sabar!

: Hahaha! Eh, sudah jam segini, nih. Gue off dulu, ya, sebelum jalanan macet parah.

: Okey. Sabar, ya, Cil. Take care.


Ririn
Kemarin aku ngobrol dengan Mama, cerita tentang rencana kawinannya Pucil di Bali. Di luar dugaan, Mama malah antusias banget mendengarnya. Pakai bertanya aku akan datang atau tidak, pula. Aku melihat mama dengan heran. Sumpah, deh, biasanya untuk keluar kota saja Mama pasti akan ngasih seberendeng pertanyaan dahulu sebelum izinnya keluar. Itu juga kalau izinnya berhasil keluar. Kebanyakan, sih, tidak. Sulitnya jadi anak bontot. Perempuan satu-satunya pula. Hmmm, pasti ada apa-apanya, nih, sampai Mama bisa gampang kasih izin begini.
Benar juga, ternyata Mama mendapat ‘pencerahan’ setelah bicara sama Papa. Papa bilang, Mama dan kakak-kakakku terlalu ‘galak’ sama teman-teman cowokku. Kata Papa, sih, awalnya Mama protes habis-habisan. Menurut Mama, itu cuma cara untuk menyeleksi cowok mana yang serius sama aku. Iiih, aneh-aneh saja memang si Mama, Papa juga tertawa-tawa waktu cerita ke aku. Tapi setelah Papa bilang kalau Mama begini terus aku sulit dapat jodoh, Mama langsung mengendur. Mungkin Mama pikir dengan datang ke nikahannya Pucil aku bisa nyangkut dengan cowok. Hah. Mama tidak tahu saja kalau di acara nikahan biasanya eligible bachelor-nya langka. Boro-boro yang pakai gelar eligible, yang hanya bachelor saja sulit ditemui. Nikahan itu kan ajang pamer gandengan. Semua juga tahu itu.
Oh well, satu masalah sudah diatasi. Sebenarnya tinggal berangkat saja ke Bali kalau mau. Iya, kalau mau. Tapi pertanyaannya adalah, apakah aku mau berada di sana, di tengah para pasangan yang berbahagia itu?
Hfff... i really dunno!

“One...
One...
One is the loneliest number that you ever know
Two could be as bad as one as the loneliest number since the number one”
Tao Of Groove – One (Is the Loneliest Number)


Edwina
Gue mengintip Mas Arief dari balik pintu kamar. Suami gue itu lagi tertawa-tawa menonton Ace Ventura yang diputar ulang di TV. Hmmm... mungkin pas waktunya kalau gue tanya lagi sekarang, mumpung mood-nya lagi enak, mumpung Andien masih tidur juga. Gue mendekati Mas Arief pelan-pelan.
“Nonton apaan, sih, Mas?”
“Ini, nih, film bego banget.”, katanya, mata enggak lepas dari TV.
“Pucil nanyain lagi, tuh, Mas, kita bisa datang atau enggak ke Bali. Dia lagi bikin guest list.”, kata gue sambil pura-pura sibuk membereskan majalah dan kertas yang berserakan di atas meja. Iya, gue berbohong memang, Pucil enggak pernah bertanya soal itu. Tapi kalau enggak begini, sulit nyari pembuka pembicaraannya.
“Kok, tanya-tanya terus? Memangnya enggak bisa kita mutusinnya nanti-nanti aja?”
“Soalnya yang ini beda, Mas. Tamu-tamu makannya sambil duduk, jadi harus tahu pasti berapa orang yang bisa datang buat seating-nya. Kita bisa datang, enggak ya, kira-kira?”. Duh, gue deg-degan juga, nih, apalagi Mas Arief lantas melihat ke arah gue dengan serius.
“Aku bukannya enggak mau pergi, Win. Tapi kalau kita enggak punya dana buat pergi ke sana, mau bilang apa?”, jawab Mas Arief dengan lembut. Hati gue langsung mencelos. Nah, kalau sudah begini, bisa apa? Gue paksain buat tersenyum.
“Iya, enggak apa-apa. Aku cuma nanya saja, kok, Mas. Habisnya kasihan Pucil nagih terus. Nanti aku bilang sama dia kita enggak bisa datang.”
Mas Arief menatap gue lama.
“Kamu enggak apa-apa, kan, kalau enggak datang?”
Gue menggeleng sambil tertawa.
“Ya, enggak, lah Mas. Kan habis kawinan kita masih bisa kasih selamat ke pengantin barunya.”, kata gue sambil berjalan ke dapur. Iya memang, itu alternatif terakhir. Tapi bohong namanya kalau gue enggak sedih. Di balik dinding dapur, gue berhenti dan menarik nafas panjang.
Ah.
Mungkin...
Mungkin sebenarnya masih ada jalan, tapi Mas Arief enggak melihatnya. Mungkin Mas Arief enggak mengerti betapa gue ingin pergi karena undangan nikahan kali ini berbeda dengan yang lainnya. Di antara sekian banyak teman-teman gue, Pucil adalah salah satu yang istimewa.
Gue kenal dia sudah lama, entah berapa tahun yang lalu. Gue dan dia masih sama-sama mahasiswa baru waktu itu. Ingat banget gue, saat itu hari Jum’at, hari terakhir ospek yang berarti hari terberat penyiksaan lahir batin. Waktu itu kita semua dipecut olahraga pagi keliling kampus. Baru lari beberapa keliling, perut gue berulah. Melilit dan sakitnya minta ampun, gue sampai keringat dingin. Bahkan sampai enggak kuat untuk berdiri. Pucil adalah satu-satunya yang berhenti untuk membantu gue berdiri. Karena gue tetap enggak kuat, dia lalu ikut menemani gue duduk di jalan sampai tim sweeping senior menemukan kita teronggok di tengah jalan. Waktu gue tanya apa dia enggak takut kena damprat senior gara-gara tindak sok heroiknya, dia malah tertawa. Katanya dia mendingan kena damprat daripada harus meninggalkan gue sendirian. ‘Lagipula aku bisa pura-pura sakit juga.’, tambahnya.
Pada saat itu juga, gue sudah bisa melihat bahwa Pucil berbeda dengan orang lain. Sebelum ada Bon-bon dan Ririn, hanya Pucil yang bisa begitu ke gue. Hanya Pucil yang bisa membalas sarkastik tingkat tinggi seorang Edwina dengan cengiran bego yang malah bikin orang lain tertawa.
Jadi, jelas gue kecewa sekarang. Kecewa sekali, bisa dibilang. Dan, enggak... gue enggak akan menyalahkan siapapun kalau saat ini gue mentok enggak akan bisa berangkat. Kalaupun ada yang bisa disalahkan itu adalah diri gue sendiri. Terlalu boros, enggak pernah bisa menabung. Sekarang giliran punya kebutuhan seperti ini, gue cuma bisa gigit jari.
Oke. That’s it.
Akhirnya gue dapat jawaban dari Mas Arief. Sekarang setengah diri gue jadi berharap Pucil kalah ‘taruhan’ dengan omnya sehingga harus mengadakan resepsi di Jakarta. Sementara setengah diri gue yang tadinya berharap Pucil jadi nikah di Bali, merasa sedih luar biasa. Karena tahu gue tidak akan bisa ikut di sana. Seandainya saja gue masih single...
Ah, enggak ada gunanya mikir begini. Lebih baik memikirikan cara yang paling enak untuk mengatakan kabar buruk ini ke Pucil.


Bon-bon
Yuhuuu, the sale season is already on! SMS ke anak-anak, ah. Kalau mereka mau mencari baju buat kondangan di Bali, ini saat yang tepat! Tapi pada kemana, sih, dua manusia itu? Dua-duanya telponnya enggak dijawab. Harusnya mereka sudah mulai menyiapkan liburan ramai-ramai ini dari sekarang. Payah, nih! Semangatnya kurang!


Pucil
Pekerjaan aku tidak ada habisnya, tidak di kantor, tidak di rumah. Ternyata mengurusi pernikahan itu bisa mengambil alih kerja pikiran 24 jam dalam sehari. A full –time job! Bahkan dalam tidur pun aku sering bermimpi browsing di internet atau belanja kain di Kebayoran. Gila, enggak, sih?
Satu jam yang lalu aku sampai di rumah lalu mandi, dan makan. Mama dan Papa lagi-lagi bertanya tentang progress persiapan. Uh, seandainya mereka tahu. Ya, jelas aku tidak cerita tentang kesulitan mencari venue. Aku tidak mau mereka jadi punya harapan berlebih untuk bikin nikahannya di Jakarta. Jadi aku berpura-pura semuanya sudah dalam genggaman.
Setelah makan, aku kembali ke kamar dan me-review semua yang sudah dan akan dilakukan.

--------------------------------------------------------------------------------------

Wedding ‘Stuff’:
1.Undangan
(√) Cari disain  Berwarna nuansa putih-biru, simple, tanpa foto. Kertas broken white, hard cover. Gambar depan: Lilin-lilin biru, grafis hitam dipinggirnya (graphic design by Bon-bon), warna huruf: variasi biru + hitam. Satu kertas tambahan buat peta lokasi. Tanpa amplop, pakai pita (biru), wadah plastik. Tempat: menyusul.
(√) Cari tempat  Cek: Domini, Antiquez, NabClazz, Bornio. Cek disain, harga, dll. Pilih tempat: Antiquez.
(√) Meeting 1: Bikin jadwal (berapa lama buat atur design dan nyetak, cari warna yang pas, dll)
(√) Meeting 2: Cek disain, cari warna yang cocok. Cari pita yang cocok ukuran dan warnanya.
(√) Meeting 3: Warna belum cocok juga! Aargh! Rabu depan harus datang lagi, deh. 
(√) Meeting 4: Masih belum pas juga warnanya . Ternyata warna di layar komputer orang di Antiquez yang harus di-adjust lagi supaya mendekati setting-an warna print-an. Harus ketemuan lagi minggu depan. Berarti harus telat masuk kantor lagi. Aduuuh!
(…) Cari pita biru di Pasar Tanah Abang.
(...) Meeting 5: Cek warna print-an untuk yang kesekian ribu kalinya. Bawa pita hasil hunting dari Pasar Tanah Abang.

2. Souvenir
Beberapa pilihan yang menarik: gantungan kunci, kipas, tempat lilin, wadah handphone, sumpit, apa lagi? (Pesan kira-kira 150-200-an, buat jaga-jaga)
Cek: - Harga-harus sesuai budget
- Kualitas
- Berat (Ingat, Cil, harus dibawa ke Bali, jadi jangan terlalu berat.)
- Waktu untuk membuatnya, jangan terlalu lama karena waktunya tidak ada.

3. Baju pengantin
Tips: Jaga berat badan supaya nanti tidak kelabakan bajunya kesempitan!
(√) Cari model potongan baju  Ganesha: baju Demang, hitam dengan kain batik nuansa biru melintang sepaha atas, Pucil: Kebaya kerah Sabrina putih dengan kain batik nuansa biru. Baju untuk keluarga juga – nuansa putih-biru.
(√) Measuring time!  Baru minggu ke-empat berhasil ngajak Ganesha ke tempat Tante Desi. 
(...) Ingatkan Ganesha lagi buat nanyain ukuran baju keluarganya supaya Tante Desi bisa cepat ngasih kainnya ke penjahit.
(...) Belanja kain di Kebayoran sama Tante Desi. Ingat, Cil, tawar! Tawar! Tawar!

4. Guest List
- Ingatkan Ganesha lagi dan lagi untuk membuat guest list dari keluarga dan teman-temannya. Paling lambat sebulan sebelum hari H.
- Cari alamat buat para guest list yang undangannya harus dikirim via post. Kalau ada yang harus lewat e-mail, cari alamat e-mail-nya.

5. Foto
(√) Minta referensi dari Bon-bon dan Edwina tentang fotografer untuk weeding dan prewedding.
(√) Bandingin harga dan style foto, cari yang cocok. Kalau bisa cari yang sudah kenal karena repot juga harus di’angkut’ ke Bali, neh!

6. Venue - Bali
(√) Minta referensi dari semua orang. (PENTING: Ingatkan Ganesha untuk tanya lagi sama temannya yang kerja di wedding organizer).
(...) Browsing internet. Cek: kualitas tempat, harga, availability, dan daya tampungnya.
(...) Kalau sudah dapat beberapa alternatif, survey langsung ke Bali buat cek ulang sekalian ngobrol dengan PR-nya untuk booking dan down payment.

--------------------------------------------------------------------------------------

Memang rencananya hari ini aku ingin santai di rumah. Tapi rencana itu selalu buyar setiap kali aku berhadapan dengan secarik notes ini. Karena setelah itu aku pasti selalu terserang panik kronis. Waktu tinggal dua bulan lagiii! Sebulan lagi, lebih tepatnya, karena butuh waktu kira-kira 3-4 minggu untuk mencetak undangan dan souvenir, yang berarti akhir bulan depan aku sudah harus mendapat nama tempat untuk dicantumkan di dalam undangan. Hah! Sementara Ganesha masih belum selesai dengan PR membuat guest list-nya.
Sungguh, deh, aku tidak mau jadi monster bridezilla yang kerjanya main suruh dan marah-marah ke orang lain. Namun kalau sudah begini, apa ada pilihan lain? Semua orang punya kadar prioritas yang berbeda dalam menanggapi sebuah hal. Dan seringkali untuk menyamakan visi prioritas tersebut butuh penegasan yang sering disalahartikan sebagai penjajahan salah satu pihak.
Kemarin aku berinisiatif untuk booking dua tiket pesawat ke Bali untuk dua minggu dari sekarang. Tiketnya sendiri masih belum aku issued, sih, jadi masih bisa dibatalkan atau diubah tanggalnya. Untung aku sudah kenal dengan Mbak Chris, pegawai ticketing dari travel agent yang sering aku pakai. Jadi tidak terlalu sulit minta di re-book kalau time limit untuk issuing tiketnya expired. Yang jelas, tiket itu harus digunakan dalam beberapa minggu ke depan karena kita berdua benar-benar membutuhkan survey langsung ke Bali.
Nah, masalahnya, sekarang saja aku masih belum berhasil mendapat kandidat venue yang cocok. Dari browsing internet, sih, sudah ada beberapa pilihan, tapi... aduh... kenapa mahal banget, ya? Aku ragu sendiri apa tepat memasukan nama-nama tersebut sebagai pilihan. Kebanyakan rate-nya pakai dollar pula. Kasihan betul rupiah kita, di tanahnya sendiri tidak diakui kedudukannya.
Benar kata Om Rio, uang segitu banyak memang lebih baik digunakan untuk hal yang lain. Tapi aku masih ingin berjuang buat mencari tempat di Bali. Senewen tingkat tinggi! Sepertinya weekend ini aku harus ‘charge baterai’, ketemu lagi sama anak-anak. Bisa stress kalau semuanya disimpan sendiri. Mudah-mudahan mereka tidak bosen mendengar keluh kesahku.

No comments:

.,.,.,.,.

Loading...