Thursday, June 18, 2009

EPILOG



Seminggu kemudian aku kembali berkutat dengan segudang pekerjaan yang menumpuk di kantor, menunggu untuk diselesaikan. Yap, back to my ordinary life setelah menjalani seminggu lebih yang penuh dengan keajaiban di Bali. Jangan tanya soal honeymoon, karena bulan yang katanya semanis madu itu kita habiskan beramai-ramai bersama dua keluarga. Tentu saja plus Bon-bon, Ririn, dan Edwina. Kebayang, kan, honeymoon macam apa yang aku dan Ganesha lalui kemarin ini? Hahaha.
Anyway, ketika tengah browsing internet, tidak sengaja aku membuka sebuah situs ramalan. Telunjuk kanan sudah nyaris mematikan halaman itu kalau saja mataku tidak tertumbuk pada sepotong paragraf ini:

Cosmic (definition):
-The whole universe, relating to the whole universe
- Astronomy of universe apart from Earth: describe outer space or a part of the universe other than the Earth
- Enormous, very great in size or significance

Lalu aku tertegun.
Whole universe.
Enormous.
Very significance.
Magic! (Yang juga berirama dengan kata cosmic).
Sungguh kata-kata yang tepat untuk menjabarkan apa yang aku rasakan selama setahun belakangan ini.
Sebenarnya dari dulu aku selalu percaya bahwa tidak ada yang namanya ‘kebetulan’ di dunia ini. Semua hal yang terjadi dalam hidup kita adalah untuk sebuah alasan. Dan cosmic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang aku yakini. Ketika seseorang memutuskan sesuatu dalam hidupnya, semikro apapun bentuk keputusan itu, kosmik dalam hidupnya dimulai. Naik bis ke kantor, memakai baju warna merah, meminum air, bahkan detik yang jadi penentu saat kita menutup mata dan tertidur.
Kedengarannya biasa saja, bukan? Tapi tunggu saja ketika keputusan yang kita jalani tadi bersenggolan dengan keputusan orang lain. Maka kecopetan saat naik bus bisa terjadi, atau mungkin perjumpaan dengan seorang teman lama karena baju merah kita tertangkap oleh matanya, tersedak air putih sampai harus ditolong orang, bangun kepagian karena tidur lebih awal, dan masih banyak lagi. Penyesalan, pencerahan, keberuntungan, apa pun itu. Mungkin rasanya seperti menggesek kertas lotere untuk melihat kemana hasilnya akan membawa kita. Coba, deh, kita bayangkan apa saja yang telah kita miliki hari ini. Dari mana semua itu berawal? Semua akan kembali kepada keputusan yang telah kita buat di masa lalu.
Menakjubkan, ya, betapa keputusan yang amat sangat kecil, bisa membawa kita ke titik saat ini. Kalau saja aku tidak jadi datang ke reuni SMP waktu itu, Ganesha dan aku mungkin tidak akan menikah. Mau dengar yang lainnya lagi? Kalau saja Bon-bon tidak bicara dengan Ririn malam itu, Ririn mungkin tidak jadi datang ke Bali. Dan kalau itu terjadi, Ririn tidak akan bertemu dengan Toska yang belakangan ini membuatnya sangat ceria. Seribu cerita bisa kita tarik dari sebuah momen terkecil yang sudah terjadi dalam hidup.

Yap. Tabrakan kosmik.
Itu yang terjadi ketika hidup kita dan orang lain saling bersentuhan. Aku menyukai kalimat tersebut. Terdengar lucu, tapi sangat nyata. Kalimat itu membuatku membayangkan bahwa hidup manusia diwarnai oleh letupan-letupan kosmik yang efeknya turut dirasakan oleh orang-orang disekitarnya. Karenanya aku percaya bahwa setiap orang adalah navigator dari kapalnya sendiri. Sesuatu yang kita sering lupa ketika sedang putus asa dan memutuskan kapalnya terombang-ambing dibawa ombak. Padahal keajaiban itu kita sendiri yang ciptakan setiap harinya. Kita yang menjadikannya ada!
Memang tidak akan ada habisnya manusia bertanya apa maksud keberadaannya di dunia ini. Tapi mungkin satu-satunya yang bisa membantu kita untuk menangkap jejak-jejak jawaban dari pertanyaan tersebut adalah ketika kita melahirkan letupan-letupan kosmik dalam hidup.
Terus bergerak. Terus termotivasi. Terus melangkah.
Magic!
Cosmic!
Dan sekarang, aku dan Ganesha bersama-sama menjalani keajaiban setiap harinya. Sulit dipercaya semua ini dimulai dari sesuatu yang begitu kecil yang akhirnya mengubah hidup kami berdua: sebuah pertemuan, dua garis yang saling berpotongan dan akhirnya berjalan berdampingan. Lucu juga kalau dilihat lagi betapa repot aku dan Ganesha demi menyiapkan perkawinan impian kami. Semua harus sempurna, bahkan di titik tertentu, kecacatan sedikit pada persiapan kemarin bisa membuat kita emosional. Padahal ketika harinya tiba, semua mengalir begitu saja seperti air. Justru ketidaksempurnaan itulah yang menjadikan kita sempurna sebagai manusia.
Coba pikir, siapa yang peduli kalau waktu itu sepatuku tidak seragam, kalau semua orang berpikir betapa beruntungnya perempuan yang tengah berjalan menuju pernikahannya. Siapa juga yang memusingkan souvenir-nya sekonyol bintang laut kering, kalau semua merasa pernikahan hari itu adalah pernikahan yang paling indah yang pernah mereka hadiri? Bahkan bukannya tidak mungkin kalau pernikahan kami berdua menjadi sebuah pencerahan bagi seseorang yang hadir, atau malah mengacaukan pikirannya? Hahaha, entahlah. Semua kembali ke kosmik dalam hidupnya, bukan?
Bagiku sendiri, 8 Agustus kemarin juga merupakan perombakan besar tentang konsep ‘pernikahan impian’ dalam pikiranku. Sekarang, kalau ada yang menanyakan padaku apa definisi pernikahan yang sempurna, kamu tahu apa jawabanku? Yang jelas bukan pantainya atau bunganya atau bajunya atau makanannya. Pada akhirnya aku akan menjawab dua hal: satu, dihadiri oleh orang-orang yang paling berarti dalam hidupku. Dan yang kedua, yang paling penting, adalah disandingi oleh laki-laki yang paling aku sayangi dan menyayangiku lebih dari siapapun di dunia ini.
Tanpa dua hal tadi, sebuah pernikahan, betapa dahsyat dan mewahnya, pasti akan terasa hambar dan menyedihkan.

Yap, itu saja!
Cerita Ini Hanya Khayalan Saja....

No comments:

.,.,.,.,.

Loading...