Thursday, June 18, 2009

Chapter 5


: Hei! Gimana persiapan nikahannya?

: Aduuuh, Tos, jangan ditanya, deh...

: Lho? Kok gitu? Bukannya kemarin kata lo keluarga sudah bisa diajak kompromi?

: Iya, itu sudah enggak masalah, sih. Tapi kita masih bingung nyari tempatnya. Plus gue juga harus bagi waktu sama kerjaan. Harus nyocokin waktu luang juga sama Ganesha. Tau sendiri, kan, Ganesh kalau sudah ada proyek sibuknya seperti apa.

: Wah, iya. Harus banyak sabar, lo Cil. Btw, maunya venue yang kayak gimana, sih?

: Masih sama kayak yang gue bilang kemarin. Outdoor, dekat pantai, kalau bisa dipinggir pantai, lah. Suasana semi formal, gitu.

: Lha, tempat-tempat yang kemarin gue bilang, sudah di-cek, Cil? Maunya yang kayak gitu, kan?

: Hmmm... iya.

: Terus?

: Ya, gitu, deh, Tos. Browsing di internet masih kurang sreg. Kayaknya memang harus ke Bali, nih. Pusing gue, kapan dapat waktunya, ya? Mana di kantor juga lagi ribet. Harus nyari sponsor besar buat bazar tahunan. Sabtu-Minggu juga kadang-kadang harus meeting sama calon klien.

: Harus jago bagi waktunya, Cil. Kalau sudah kepepet, minta backing dari teman yang lain aja dulu. Bolos satu meeting aja masa enggak bisa?

: Minta backing? Hehe. Agak susah, tuh, kayaknya Tos. Semuanya lagi pada sibuk sama urusan masing-masing. Begini memang menjelang Bazar tahunan. Kerja kayak kuda. Bisa dimusuhin gue kalau sampai nambah-nambahin kerjaan teman gue. Apalagi terus gue terbang ke Bali. Bisa dipikir liburan kali.

: Bisa laaah! Dan harus cepat, Cil. Setahu gue, sih, biasanya menjelang tengah tahun, tempat-tempat yang bagus buat nikahan cepat banget penuh booking-annya. Biasanya sama turis Jepang sama Australia. Semakin cepat lo bisa nemu dan booking yang cocok, semakin bagus. Paling enggak lo jadi bisa follow-up hal yang lain.

: Iya, nih. Mana si Ganesha juga lagi menghilang melulu. Duh! Eh, kalau kita ke Bali, lo bantuin, ya?
...
...
...
: Tos? Halooo?

: Eh, iya. Sorry, tadi ada yang bayar. Bantuin elo berdua? Ya kalau bisa, ya, Cil.

: Yah? Kok kalau bisa?

: Maksud gue, kalau guenya juga lagi di Bali.

: Lho, emang ada rencana mau pergi-pergi?

: Enggak, sih. Tapi daripada gue janji duluan terus malah enggak bisa bantuin? Nanti lo marah lagi sama gue.

: Enggak bakal marah, kok. Asal kawinan gue lo dateng! Hehehe.

: Amin. Semoga bisa. Eh, gue tinggal dulu, ya. Ada yang minta tolong, nih.

: Kayak Superman aja, lo, ah! Hihihi. Ya sudah. Selamat nolongin oraaang!


Ririn
Toska itu siapa, sih?
Penasaran banget aku sama cewek itu. Kalau dari cerita Pucil, kayaknya anak itu perkasa banget. Sering jaga warnet kakaknya sendirian sampai tengah malam. Bisa betulin komputer korslet pula! Lumayan juga, tuh, kalau dia datang ke Jakarta bisa diminta bersihin komputer aku yang virusnya ampun-ampunan.
Pucil bilang dia kenal Toska dari Friendster. Waktu iseng aku lihat Friendsternya, eeeh... tidak ada fotonya. Malah foto pemandangan dipajang-pajang. Curiga, tidak, siiih? Pucil, kok, bisa-bisanya akrab sama teman online yang wajahnya saja tidak jelas bentuknya, ya? Kalau aku, sudah malas duluan kali. Siapa tahu dia ternyata psycho yang punya niat jelek. Untungnya si Toska-Toska itu tinggal di Bali dan bisa ngasih Pucil referensi tempat buat nikahannya.
Pucil tadi curhat waktu kita semua ngumpul di Senayan City. Katanya dia sudah survey tempat di Bali lewat internet. Sebenarnya banyak yang bagus, tapi sayang harganya juga ‘bagus’. Yah, Pucil aneh-aneh saja, masa mau nyari tempat nikahan di Bali dengan harga diskonan? Memangnya nyari barang di pasar uler? Di Jakarta saja nyewa gedung harganya gila-gilaan. Kalau aku jadi Pucil, sudah aku terima tawaran Omnya, deh. Kan lumayan dapat diskon, uangnya bisa dialokasikan buat kepentingan yang lain. Tempatnya dijamin bagus, lagi! Kalau aku bilang, Pucil memang benar-benar harus pergi ke Bali, tanya langsung sama orang Balinya buat referensi tempat. Kalau perlu, tarik si Toska-Toska itu buat keliling Bali. Saatnya mendayagunakan teman, dong.
Selain itu kita juga sharing tentang hal yang lain. Edwina memberi beberapa nama tempat dan nomor telpon untuk bikin kartu undangan. Bon-bon berbagi nama desainer buat baju pengantin. Sementara aku cuma bisa mendengarkan. Siapa tahu suatu hari kelak bisa berguna.
Sekarang aku sudah bisa bilang begitu. Setahun yang lalu mungkin reaksiku akan berbeda karena waktu itu aku nyaris bertekad tidak mau nikah seumur hidup. Kalau saja Edwina, yang waktu itu baru hamil, tidak bercerita tentang sesuatu…

Setahun yang Lalu…
Aku tengah menemani Edwina makan siang untuk kedua kalinya. Maklum, ibu-ibu ngidam, hasrat makannya nyaris sebesar tukang becak habis narik.
“Win, nikah itu enak enggak, sih?”, tanyaku iseng.
“Ya enak.”, jawab Edwina asal sambil sibuk memotong daging ayam tepung di depannya.
“Enggak nyesel nikah, Win?”
“Nyesel gimana?”
Aku terdiam.
“Yaaa… nyesel kalau kehidupan enggak nikah ternyata lebih baik. Kan kamu enggak bisa undo dan balik lagi ke kehidupan sebelumnya”, Edwina tertawa.
“Mungkin iya, mungkin enggak.”, jawab Edwina tanpa mengalihkan perhatian dari makanan di depannya.
“Gimana maksudnya?”
“Duh, bawel banget, sih, lo! Gini, deh, Rin. Makanan apa yang paling enak yang pernah lo coba?” Aku melongo.
“Memangnya apa hubungannya makanan sama kawinan?”, tanyaku balik.
“Jawab aja dulu, enggak usah pakai tanya-tanya.”, tukas Edwina galak.
“Hmmm… apa, ya? Mungkin steak yang waktu itu kita makan rame-rame di Park Lane.
“Hahaha, iya, itu emang enak banget. Nah, sekarang bayangin, deh, apa rasanya waktu lo gigit steak itu pertama kali dan lidah lo ngerasain sensasinya.”
Aku menatap Edwina dengan heran. Anak satu ini bisa ekspresif kadang-kadang, tapi dengan cara yang aneh. Namun diam-diam aku membayangkan juga dalam pikiran. Hmmm… gurih, empuk, nikmat banget memang, walaupun harganya mahal!
“Udah? Lantas sekarang bayangin kalau elo enggak pernah nyobain steak itu dalam hidup lo. Elo enggak akan mati gara-gara enggak nyobain, kan Rin? Tapi elo juga enggak akan bisa merasakan pengalaman yang enggak ada duanya ketika elo makan steak itu pertama kali. Nah, bagi gue, pernikahan juga seperti itu, Rin. Tanpa menikah, gue yakin kita bisa survive, tapi kita akan kehilangan masa-masa paling indah yang mungkin akan hinggap dalam hidup. Kalau saat dan orangnya tepat, kenapa enggak? Gue yakin elo enggak akan pernah berpikir menyesali pernikahan kalau begitu banyak hal menyenangkan yang bisa lo serap dari situ.”, kata Edwina tanpa sekalipun berhenti melahap makanannya. Tinggal aku sendiri yang tercenung.
Momen itu benar-benar mengubah pandanganku dalam hidup. Edwina mungkin tidak pernah menyadarinya, bahkan mungkin dia sudah lupa pernah berkata-kata seperti itu kalau aku tanyakan lagi. Tapi aku tiak akan pernah lupa, sampai sekarang.
Hmmm…
Eh, ngomong-ngomong, Pucil marah enggak, ya, kalau aku tidak bisa datang Agustus nanti?


Edwina
Sore ini kita bertiga ngumpul lagi, kali ini di Recipe, Senayan City. Cuma Bon-bon yang terlambat datang gara-gara terjebak macet di Cilandak. Untung Andien sudah sembuh flunya jadi bisa gue tinggal sebentar dan Mas Arief hari ini pulang cepat.
Tadi gue memberikan Pucil nomor telpon tempat-tempat untuk bikin kartu undangan, sekalian ngasih dia range harga dan variasi style-nya. Paling enggak Pucil jadi bisa gerak cepat bikin undangan. Walau sebenarnya... hmmm... tanpa kejelasan venue, undangan enggak akan bisa dicetak, sih. Kalau soal tempat, Pucil bilang dia mendapat banyak referensi dari Toska, teman onlinenya itu, tapi sayangnya belum ada harga yang cocok. I wish i can help more, tapi gue sendiri kurang tahu menahu tentang venue di Bali.
Oh iya, ngomong-ngomong tentang Toska, gue heran kenapa si Ririn curiga banget sama cewek itu. Memangnya ada yang aneh dengan berteman online sekarang, ya? Gue memang paling males kalau diajak kenalan sama cowok lewat internet. Tapi kalau kenalan sama cewek dan akhirnya jadi berteman, kan enggak apa-apa. Lagian dari cerita Pucil, Toska sudah banyak bantu soal referensi tempat. Si Ririn kebanyakan nonton TV, sih, jadi bayangannya yang enggak-enggak saja. Hihihi.
Wah, kalau benar Pucil nikah di Bali, gue harus berusaha lebih giat menghasut Mas Arief untuk datang ke kawinannya Pucil, nih. Kemarin gue coba tanya lagi ke suami gue sambil lalu, Mas Arief lagi-lagi terlihat ogah-ogahan. ‘Lihat nanti’, katanya seperti biasa. Hmmm... masih ada beberapa bulan waktu gue. Tapi, yaaa... ini juga kalau Pucil berhasil mendapat venue. Coba lihat hasilnya nanti.


Bon-bon
I just hate Jakarta’s traffic! Perasaan macetnya makin lama makin jadi, deh. Masa dari Cilandak ke Senayan City memakan waktu sampai dua jam lebih?! Edan! Bisa tua di jalan kalau kayak gini terus caranya. Akhirnya aku ketinggalan obrolan seru, deh. Edwina juga harus pulang enggak lama setelah aku datang. Sebel. Tapi aku maklum juga, sih, dia kan sudah ada keluarga yang menunggu di rumah. Hmmm… I wonder if I’m going to be like that with Billy someday…
Pembicaraan sore tadi juga masih seputar kawinan Pucil. Ternyata anak itu masih belum menemukan venue di Bali juga. Ouch, kirain semuanya sudah lancar. Si Ririn sepertinya malah ingin Pucil nikah di Jakarta. Kenapa, ya? Padahal lebih seru di Bali, kan! Walaupun akan lebih ribet, sih. Tapi bisa laaah! Everything can be done. Lagipula bukan Pucil namanya kalau begitu saja langsung melempem. Pokoknya aku mendukung Pucil 100%, sudah kebayang dress seperti apa yang ingin aku pakai nanti. Cihuy!
Aku malah khawatir sama Ririn, nih. Belakangan ini dia kelihatan jadi pendiam banget. Padahal biasanya selalu saingan level suaranya dengan si Madam Medusa kalau sudah ledek-ledekan. Hmmm… ini bukan pertama kalinya Ririn seperti ini. Waktu Edwina nikah dulu, dia juga sempat punya masa-masa menciut seperti ini. Aku pikir itu cuma gara-gara dia lagi BT saja, tapi kayaknya enggak, deh. Kapan-kapan aku ingin ngobrol berdua aja sama dia. I bet there is something going on behind all these behaviours!


Pucil
Ketemuan dengan anak-anak hari ini berjalan seperti biasa. Ririn selalu tepat waktu. Edwina selalu terlalu cepat datang. Bon-bon selalu datang terakhir dan seperti biasa selalu dibarengi dengan omelan betapa sumpek jalanan di Jakarta. Hehehe.
Sudah dua minggu berlalu sejak perjanjian dengan Om Rio, berarti sudah dua minggu juga aku intens browsing internet, tapi tempat yang pas masih belum juga dapat. Tempat yang bagus, sih, banyak banget. Dari yang pas di pinggir pantai, di halaman hotel yang menghadap langsung ke pantai, sampai di tebing tinggi dengan view laut. Semuanya pasti cantik banget untuk resepsi waktu sunset. Sesuai dengan apa yang aku dan Ganesha inginkan. Sayangnya karena persoalan harga, kita belum berjodoh dengan tempat-tempat itu. Aduh, tarik nafas panjang-panjang, deh.
Kalau kata Toska, sih, kadang harga yang tercantum di internet adalah harga ‘expatriat’. Jadi bisa jadi lebih murah kalau untuk aku dan Ganesh. Selain itu tergantung peak season juga. Bulan Agustus itu termasuk peak season tidak, ya? Aku cuma khawatir ketika kita sudah menemukan tempat, semua tanggal weekend sudah penuh ter-booking. Tidak mungkin kita ngadainnya di tengah minggu. Bisa-bisa tidak ada yang datang, nanti. Termasuk pengantinnya!
Tadi Edwina memberi aku beberapa nama tempat bikin kartu undangan. Bon-bon juga berusaha bantu dengan ngasih aku nama-nama disainer. Gaya banget, ya, dia? Padahal aku sudah bilang, baju aku dan Ganesh nanti yang bikin Tante Desi. Tidak kalah hasilnya dengan buatan para disainer itu. Dasar Bon-bon, semuanya harus serba glamour. Untung isi dompetnya bisa menyokong gaya hidup gila-gilaan dia! Aku rasa dia kalau dia yang punya rencana nikah di Bali, tidak akan sesulit ini. Dan Ririn, wah, Ririn adalah pendengar yang terbaik di antara semuanya. Sementara Edwina terkesan terburu-buru dalam menanggapi suatu hal, Bon-bon terkesan menyepelekan keadaan, Ririn selalu melihat sesuatu dengan penuh pertimbangan. Aku paling suka mendengar masukan dari Ririn. Hanya saja aku merasa Ririn tidak menyadari kelebihannya ini walau sudah berkali-kali kita bilang.
Ngomong-ngomong, Ganesha sudah dapat info dari temannya yang kerja di wedding organizer belum, ya? Dia sering lupa kalau tidak diingatkan. Aku telpon dulu, deh.

No comments:

.,.,.,.,.

Loading...